Break Even Point

0 comments

Analisis biaya-volume-laba atau analisis impas (break even analysis) adalah suatu pemeriksaan bagaimana jumlah pendapatan dan biaya beruah seiring dengan perubahan volume penjualan.

Asumsi yang mendasari Analisis Biaya-Volume-Laba;

  1. Semua biaya diklasifikasikan sebagai biaya variable ataupun biaya tetap.
  2. Fungsi jumlah biaya adalah linear dalam kisaran relevan
  3. Fungsi jumlah pendapatan adalah linier dalam kisaran relevan
  4. Analisisnya untuk sebuah produk, atau bauran penjualan dari bermacam-macam produk adalah konstan dalam kisaran relevan.
  5. Hanya terdapat satu pemicu biaya; volume unit produk atau rupiah penjualan
  6. Dalam perusahaan pabrikasi, tingkat persediaan awal dan akhir periode adalah sama.
Untuk lebih lengkap, download artikelnya di sini
Read On

PEMBAGIAN TUGAS

0 comments

Pendekatan tentang pembagian tugas menyebutkan bahwa ada pembagian tugas yang dikelompokkan berdasarkan suatu klasifikasi yaitu:

a) Dari atas ke bawah

b) Dari bawah ke atas

c) Lantas kerjaan.

Yang pertama yaitu menghimpun seluruh pekerjaan di atas kemudian turun ke bawah.

Yang kedua mengelompokkan orang ke dalam tugas pekerjaan kemudian menghimpun tugas-tugas ke dalam seksi-seksi. Dan yang ketiga mengikuti pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan jenjang organisasi yang bersangkutan. Di dalam proses yang ketiga, setiap langkah pekerjaan digariskan berikut nama unit dan petugas yang akan melaksanakannya.

Hampir disetiap perusahaan terdapat tiga dasar kegiatan produksi, yaitu: memproduksi, menjual, dan membiayai. Walaupun kadang-kadang indentitas seperti tidak jelas, namun tetap ada karena fungsinya memang penting bagi operasi dan kelangsungan hidup perusahaan. Fungsi-fungsi tersebut dapat dijadikan berbagai bagian dari perusahaan. Pemanfaatannya terutama sekali tergantung dari sifat dan jumlah pekerjaannya, tersedianya orang-orang yang mengerjakannya dan spesialisasi tugasnya.

Pembagian pekerjaan dapat diselesaikan dengan:

Fungsi. Kegiatan yang biasa atau sejenis ditempatkan di dalam suatu unit organisasi yang biasa. Sisttem pembagian tugas sesuai fungsinya merupakan cara yang ciasa diterapkan; mudah dipahami bahw cara tersebut sering digunakan dibandingkan cara-cara yang lain.

Tugas-tugas operasi dan pelayanan. Tugas-tugas operasi dilaksanakan ileh unit-unit dimana pekerjaan langsung berhubungan dengn produk yang akan dihasilkan. Unit-unit tersebut dapat dialokasikan ke dalam areal-areal atau fasilitas fisik yang berbeda dan umumnya dibagi menjadi unit-unit utusan atau pembantu. Unit pelayanan merupakan unit kerja yang membantu percepatan pekerjaan pada unit operasi. Cara pembagian tugas tersebut dapat lebih baik memanfaatkan tenaga anggota manajer, karena: (a) prioritas diberikan kepada tugas-tugas yang penting, (b) pengetahuan teknis yang ada dapat lebih banyak dimanfaatkan dan (c) perhatian manajerial dicurahkan secukupnya kepada produksi dan kebutuhannya.

Contohnya terdapat di dalam ”Toserba” dan fasilitas-fasilitas untuk pinjaman-pinjaman komersiil dan pribadi pada organisasi-organisasi bank.

Produk. Suatu tingkat spesialisasi agar ditimbulkan oleh pembagian tugas menurutproduk yang akan dihasilkan. Selanjutnya, pengetahuan yang bersifat khusus tentang suatu produk dapat dikembangkan secara lebih efektif. Contoh tentang pembagian tugas pengurusan berbagai barang-barang niaga di dalam suatu toko serba ada dan fasilitas untuk pengurangan kredit-kredit komersial dan kredit-kredit pribadu du dakam orang bank.

Wilayah. Pembagian pekerjaan atas dasar wilayah, merupakan cara yang populer di dalam organisasi, penjualan. Sistem tersebut memungkinkan petugas penjualan untuk mengurangi waktu dan biaya perjalanan dan memungkinkan petugas untuk lebih mengetahui kondisi-kondisi setempat. Memang ada beberapa duplikasi fungsi, tetapi pemindahan petugas-petugas penjualan tetap dilakukan dan mereka digunakan untuk mengawasi unit-unit organisasi teritorial.

Langganan. Pembagian pekerjaan sesuai dengan jenis langganan dilakukan terutama untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, misalnya dibagian pakaian anak-anak. Pembagian pekerjaan seperti itu sangat efektif apabila produknya populer dan dijual melalui berbagai sarana.

Proses. Pembagian pekerjaan sesuai proses terutama ditentukan oleh fasilitas teknis dan bersifat logis; biasanya diterapkan ditingkat operasional. Tiga pola proses meliputi bidang:

§ Seri. Produk bergerak melalui saluran tunggal dan mencapai penyelesaian secara bertahap. Setiap tahap dikerjakan oleh pegawai-pegawai yang berbeda.

§ Paralel. Pelaksanaan kerja yang dilakukan secara bersaing melalui berbagai tahapan oleh pegawai yang bersama.

§ Unit perakitan. Pelaksanaan tahap-tahap pekerjaan secara simultion oleh berbagai pegawai sesuai dengan sekuensi arus pekerjaan.

Tim Tugas. Suatu proyek khusus atau blok pekerjaan yang ditugaskan kepada kelompok kerja yang bekerja sebagai unit yang mampu bekerja sendiri karena mempunyai keahlian untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Tim tersebut biasanya bekerja sampai proyeknya selesai dikerjakan, kemudian mendapat tugas baru. Pelaksanaan kerja seperti itu bersifat kebalikan dari pembagian tugas pada umumnya dan agak terpisah dari unit-unit organisasi. Pengorganisasian tugas seperti itu kadang-kadang juga disebut pengorganisasian proyek.

Matriks. Salah satu cara kerja yang baru ialah dengan pembagian kerja secara matriks yang menganut pengawasan ganda; misalnya satu atas dasar teknis (secara vertikal pada bagian organisasi) dan satu lagi atas dasar manajer (horisontal). Membuat pola kerja yang sama dengan gambar berkotak dapat memberi keluwesan, orientasi teknis dan bentuk berimbang dari organisasi yang bersangkutan. Organisatornya bebas untuk memakai cara pembagian tugas yang manapun juga. Pada umumnya dipakai; sistem ”fungsi” untuk tingkatan teratas dari organisasi dan sistem ”proses” oleh tongkatan bawah. Namun harus diingat bahwa manusia merupakan unsur penting di dalam organisasi.

Kita tidak dapat mengadakan pembagian tugas dengan sukses jika hanya semata-mata didasarkan pada pekerjaan itu sendiri.

Nilai-nilai sosial dari orang-orang yang terlibat didalamnya juga harus diperhitungkan. Misalnya tradisi, keyakinan dan perbedaan pribadi juga harus diperhatikan sewaktu mengadakan pilihan dalam mengadakan pembagian tugas.

Selama dekade titik berat pengorganisasian dititik beratkan pada (a) menyempurnakan usaha-usaha kelompok menjadi suatu unit, dan (b) memperluas tugas-tugas perorangan.

Pada yang pertama, banyak pekerjaan dilaksanakan oleh kelompok sambil mengusahakan peningkatan produktivitas dan kepuasan anggota-anggota kelompok, hal mana menjadi perhatian dalam mengadakan pengorganisasian. Apabila kita ingin mengkonsentrasikan diri pada kegiatan perorangan, maka kita akan mengabaikan sumber yang paling bermanfaat di dalam penyempurnaan organisasi yakni penyelesaian tugas oleh kelompok.

Lagi pula, semakin banyak pengetahuan dan pengertian terhadap implikasi pribadi dan sosial tentang masalah pengorganisasian, maka semakin besar pula tercapai team wok yang baik. Dari hasil riset diketahui bahwa spesialisasi pekerjaan dapat diterapkan terutama apabila perhatian pegawai terhadap pekerjaan sudah pudar, atau keinginan untuk menyelesaikan pekerjaan sudah berkurang. Pengaruh-pengaruh negatif tersebut dapat dihindarkan dengan memperluas varietas pekerjaan dan menghilangkan konsentrasi pada tugas-tugas yang bersifat tunggal. Usaha tersebut juga disebut perluasan tugas. Perhatikan bahwa probelma manajerial untuk mengkoordinasi berbagai macam tugas dapat diperingan oleh perluasan tugas tersebut. Walaupun demikian sesungguhnya tidak ada pola yang pasti yang dapat digunakan oleh seorang manajer untuk memecahkan persoalan di dalam setiap pengorganisasian manajer tersebut harus menentukan apakah kebutuhan sesuai keadaan dan dia harus berusaha untuk memberikan kepuasan kepada mereka. Tujuannya ialah mencari komposisi yang terbaik dengan mempertimbangkan berbagai faktor, antara lain: membantu koordinasi, memperlancar pengawasan, manfaat spesialisasi, penghematan biaya, penekanan pada hubungan antar manusia.

Read On

AUTOMATION (OTOMATISASI)

0 comments

Bila kita berbicara mengenai automation, maka banyak orang yang berfikir tentang pemindahan secara mekanis bahan-bahan atau barang-barang dari suatu mesin ke mesin yang lain. Walaupun ini merupakan sebagian dari automation, tetapi prinsip ini belumlah lengkap, karena ini merupakan mekanisasi dalam pemindahan yang menggunakan transfer machines.

Automation adalah perkataan yang berasal dari Delmar. S. Harder dari Ford Motor Company untuk menyatakan suatu perpindahan yang otomatis dan terarah sifatnya dari kegiatan yang satu ke kegiatan yang lain berikutnya. Adapun inti dari konsep automation adalah adanya prinsip umpan balik (feed back), yaitu kemampuan daripada mesin untuk merasa, mengetahui dan membutuhkan kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan pada waktu hal itu terjadi. Prinsip inilah yang membedakan antara mechanization dengan automation.

Jadi dari keterangan di atas dapatlah diketahui bahwa automation sebenarnya menggambarkan pemindahan bahan dalam proses atau parts dari satu mesin ke mesin berikutnya secara otomatis yang bersifat selektif di mana ada sistem feed back. Misalnya mesin B yang sebenarnya dapat meneruskan bahan dalam proses atau part ke mesin C yang berikutnya, akan tetapi apabila terdapat kesalahan maka secara otomatis bahan atau

part tersebut disisihkan atau diapkir dan tidak diteruskan ke mesin C. Prinsip/sistem feed back dalam automation seperti telah dikatakan membuat mesin tersebut dapat merasakan, menemukan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang timbul pada waktu barang-barang diproses atau dibuat pada mesin itu. Alat feed back ini dipasang pada mesin-mesin yang mekanis sehingga mesin tersebut mengetahui adanya kesalahan dan apa kesalahan yang ada tersebut.

Kesalah pahaman yang timbul mengenai penggunaan automation

Terdapat banyak pengertian yang salah mengenai automation, antara lain:

  1. Adanya keluhan dari para usahawan (businessman) bahwa automation membutuhkan investasi yang cukup besar sehingga biaya produksi menjadi sangat mahal. Dilihat dari harga mesin-mesin ini secara relatif memang benar, akan tetapi dengan mesin-mesin yang otomatis tersebut dapat dihasilkan produk dalam jumlah yang cukup besar, sehingga biaya per unit dalam jangka panjang menjadi lebih murah. Dengan biaya per unit lebih rendah, maka ini berarti menempatkan perusahaan pada suatu tingkat persaingan yang lebih baik. Mekanisasi dan automation harus tetap digunakan oleh perusahaan-perusahaan/industri, karena melalui mekanisasi dan automation ini perusahaan/industri tersebut dapat mempertahankan tingkat persaingan/kompetisi dan tingkat efisiensinya.
  2. Terdapatnya pendapat yang mengatakan bahwa dengan adanya automation maka akan menimbulkan pengangguran yang hebat karena setiap perbaikan/kemajuan teknologi akan mengurangi tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan tertentu, sehingga banyak buruh yang dipecat. Pendapat ini sebenarnya tidak benar, karena penggunaan automation dilakukan di dalam kegiatan-kegiatan di mana para pekerja sendiri tidak mampu mengerjakannya. Jadi dalam hal ini automation digunakan sebagai pengganti manusia di mana manusia tidak sanggup. Disamping itu dengan adanya automation terdapat banyak lapangan pekerjaan baru yang muncul, sehingga ada pertambahan tenaga kerja yang cukup besar akibat adanya automation.
  3. adanya keluhan bahwa biaya perawatan (maintenance) dari mesin-mesin yang otomatis sangat mahal, karena untuk kegiatan maintenance di samping dibutuhkan tenaga-tenaga ahli dan peralatan lengkap, juga harus dilakukan secara teratur yang bersifat prefentive. Walaupun secara keseluruhan pernyataan tersebut benar, tetapi dari pengalaman ternyata dengan jumlah yang besar, maka biaya maintenance per unit produk menjadi lebih rendah.
  4. pendapat yang menyatakan bahwa automation akan menimbulkan “excess capacity” yang dapat mengakibatkan keadaan depresi. Pendapat ini sebenarnya tidak benar, karena para pengusaha akan memprodusir suatu barang apabiila barang tersebut dapat terjual atau akan dibeli oleh konsumen. Oleh karena itu ia tidak akan memproduksi suatu berang dalam jumlah yang besar apabila tidak dapat terjual. Untuk mengatasi hal ini maka biasanya para pengusaha memproduksi barang dengan menggunakan perencanaan yang didasarkan atas peramalan penjualan.
  5. terdapatnya keluhan yang menyatakan bahwa automation dapat menyebabkan turunnya semangat kerja para pekerja, karena pekerjaan yang dilakukan menjemukan (monotonous). Keluhan ini sebenarnya tidak benar, karena mesin-mesin yang otomatis memberikan lapangan pekerjaan yang baru dan pekerjaan-pekerjaan routine sudah digantikan dan dilakukan oleh mesin. Dalam hal ini pekerjaan-pekerjaan yang dihadapi para pekerja/karyawan sebagian besar hanya merupakan pekerjaan-pekerjaan melayani instrument/mesin-mesin, sehingga automation memberikan kemungkinan bagi karyawan untuk mendapatkan banyak waktu luang (istirahat) untuk menikmati hasil-hasil pekerjaannya.

Kebaikan atau dampak automation bagi masyarakat atau konsumen pada umumnya adalah:

  1. dengan adanya automation, maka kualitas produk menjadi lebih baik, karena unsur-unsur kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan oleh manusia pada waktu memproduksi dan pemeriksaan/inspeksi, sudah tidak terdapat lagi dalam proses produksi.
  2. automation akan mengurangi pemborosan dan menekan biaya-biaya pengulangan atas pekerjaan-pekerjaan yang salah, karena telah dikuranginya pengaruh para pekerja terhadap produksi yang dihasilkan.
  3. automation memungkinkan dihasilkannya produk yang hampir uniform dan dalam jumlah yang sangat besar, karena sudah distandarisasi.
  4. automation dapat mengurangi biaya produksi per unit produk yang dihasilkan karena dapat dihasilkannya produk dalam jumlah/volume yang sangat besar.
  5. automation mempertinggi efisiensi produk dan memperbesar kapasitas produksi, sehingga tingkat kehidupan masyarakat tersebut dapat dengan senang/mudah menikmati banyaknya barang-barang yang dihasilkan.
  6. automation memberikan waktu luang (istirahat) dan rekreasi para pekerja lebih banyak untuk menikmati hasil-hasil pekerjaannya, sehingga memberikan kepuasan bekerja dan meningkatkan moral serta menambah kebahagiaan para pekerja/karyawan.

Pengaruh Automation Terhadap Manajemen

Bagaimanapun juga automation akan menimbulkan masalah-masalah atau kesukaran-kesukaran tertentu bagi manajemen, antara lain:

  1. jika manajemen hendak menggunakan mesin-mesin otomatis, maka manajemen harus yakin dan dapat memastikan adanya suatu pasar yang cukup luas bagi produk yang dihasilkannya, untuk dapat menampung dan menutupi kembali biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk perencanaan, pembuatan dan pemasangan dari mesin-mesin. Hal itu perlu diperhatikan karena harga atau investasi dari mesin ini sangat mahal.
  2. automation bersifat tidak fleksibel, sehingga tindakan yang diambil tidak dapat diubah tanpa menderita kerugian yang besar dan adanya kesalahan-kesalahan yang kecil akan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Oleh karena itu setiap usaha yang diambil oleh manajemen untuk membuat suatu pabrik yang otomatis sebaiknya harus didahului dengan mengadakan penyelidikan (research), perencanaan dan analisis yang diteliti, hati-hati dan cermat agar tidak terjadi kegagalan.
  3. automation membutuhkan tenaga-tenaga yang mempunyai techincal skill maupun managerial skill, karena tanpa adanya kemampuan untuk menjalankanya dapat mengakibatkan kerugian yang besar.

Dari uraian di atas dapatlah kita ketahui bahwa penggunaan automation memerlukan ketelitian, ketepatan dan kecermatan dalam penyelidikan, perencanaan dan analisis serta tingkat kemampuan manajemen yang jauh lebih tinggi di samping tingkat kemampuan teknis, karena keadaan peralatan dan persoalan-persoalan yang dihadapai lebih rumit serta resiko yang dapat ditimbulkan lebih besar. Oleh karena itu, maka dalam penggunaan automation ini perlu diperhatikan oleh perusahaan:

  1. manajer harus dapat yakin bahwa perusahaannya akan dapat menghasilkan produk dalam jumlah besar
  2. aliran bahan (material flow) dapat dijamin lancar, dengan dapat tersedianya bahan-bahan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan baik dalam jumlah maupun kualitasnya
  3. adanya persediaan bahan-bahan dalam proses yang jauh lebih rendah dari continous manufacturing.
  4. dapat dilakukannya kegiatan preventif maintenance, karena mesin-mesin yang otomatis dan mekanisasinya tinggi memerlukan perawatan (maintenance) yang preventif. Apabila perusahaan tidak dapat melakukan preventif maintenance, maka jika terjadi kerusakan pada mesin-mesin tersebut akan mengakibatkan kerugian yang besar sekali, karena:
    1. besarnya kapasitas produksi dari mesin-mesin yang hilang
    2. besarnya biaya tenaga kerja yang harus ditanggung akibat banyaknya tenaga kerja yang menganggur, sehingga besarnya kapasitas tenaga kerja yang hilang
    3. biaya perbaikan yang sangat mahal apabila mesin-mesin seperti ini mengalami kerusakan terlalu berat.
Read On

DIRECTING (MENGARAHKAN)

1 comments

Directing merupakan suatu kegiatan untuk mengintegrasikan usaha-usaha anggota-anggota dari suatu kelompok, sehingga melallui tugas-tugas mereka dapat terpenuhi tujuan-tujuan pribadi dan kelompoknya. Semua usaha kelompok menghendaki pengarahan apabila ingin secar sukses mencapai tujuan akhir kelompok tersebut.

Setiap anggota kelompok harus memiliki informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tugas. Untuk maksud tersebut maka rencana-rencana yang sudah dibuat diberitahukan kepada semua anggota dalam bentuk instruksi dan perintah yang disampaikan secara resmi.

Pengarahan yang baik bukanlah suatu kediktatoran. Para pekerja mengharapkan dapat diberikan informasi-informasi yang diperlukan mengenai jumlah, kualitas dan batas waktu yang diperkenankan untuk pekerjaan tersebut.

Diharapkan bahwa informasi tersebut bersifat pasti dan lengkap, namun ringkas, sehingga ketentuan-ketentuan tugas berada dalam keahlian dan kemampuan orang yang melaksanakannya dan fasilitas yang tersedia adalah yang terbaik yang dapat diusahakaan oleh perusahaan.

Adat dan kebiasaan berpengaruh pada semua bentuk pengarahan. Sebagaimana biasa tugas-tugas yang akan dilaksanakan dipecah kedalam serangkaian tugas-tugas rutin; biasanya dengan cara kerja sama tugas-tugas dapat diselesaikan. Pengarahan dapat berupa suatu tugas rutin, perintah tugas berulang misalnya: ‘sediakan sepuluh unit FM-99 untuk segera dikapalkan ke Dallas

Sebaiknya apabila mengarahkan suatu tugas yang baru, maka manajer harus memberikan arah secara penuh. Partisipasi para pegawai, komunikasi yang memadai, dan kepemimpinan yang kuat merupakan dasar-dasar untuk mengarahkan.

Manajer adalah bagian dari kelompok kerja; juga dikatakan bahwa manajer merupakan bagian dari bawahan. Manajer merupakan pejabat sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Ia harus memilih dan mengintgrasikan mereka untuk melaksanakan pekerjaan yang dihadapi. Biasanya hal tersebut relative tidak pelik apabila menyangkut bangunan, mesin, dan modal; akan tetapi bagi manusia pengarahan yang diperlukan dan hal ini merupakan suatu masalah yang lebih kompleks. Manajer mempunyai pengaruh yang benar untuk mempengaruhi sikap anggota kelompok. Sifat, kepercayaan, dan sikap dari manajer terhadap anggota kelompok akan dinilai oleh bawahannya dan akan mempengaruhi efektivitas manajer dalam memberikan pengarahan kepada mereka.

Manajer harus memperoleh rasa hormat dari para pengamat dan bawahannya. Peranan yang diharapkan dari manajer berbeda dari pada peranan anggota kelompoknya.

Manajer lebih banyak mengetahui tentang kebijaksanaan perusahaan, ia lebih dahulu mengetahui perubahan-perubahan yang akan terjadi dan memiliki atau sekurang-kurangnya harus memiliki pengalaman yang lebih luas. Manajer juga berdiri terpisah dari kelompok karena merekalah yang menentukan. Sekurang-kurangnya tentang siapa-siapa yang mendapatkan tugas-tugas, siapa yang dipromosikan, siapa yang dipecat dan siapa yang mendapatkan kenaikan gaji.

Memberi pengarahan yang efektif dapat dilaksanakan oleh seseorang untuk satu kelompok. Biasanya manajer yang melakukannya, karena ia:

  • Mengetahui bawahan
  • Mengetahui keahlian dan kemampuannya
  • Mengerti akan kapasitas dan keinginan-keinginannya
  • Mengetahui apa yang dapat dihasilkan dan
  • Telah mengamati sikap hidupnya.

Dengan semua latar belakang tersebut, manajer akan mampu untuk memilih teknik memberikan pengarahan untuk mengambil langkah-langkah yang efektif dalam menunjang pengarahan yang penting. Hal tersebut dapat terlihat pada pengarahan pegawai baru, akan tetapi dapat berlaku sama bagi pegawai yang sudah lama bekerja.

Pegawai baru dapat diberikan penerangan singkat tentang keadaan fisik dan lingkungan dari tempat kerja. Informasi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dengan baik dan bagaimana cara untuk menyampaikannya merupakan keputusan-keputusan yang diambil oleh manajer. Biasanya termasuk didalamnya adalah:

  • Tempat peralatan yang tepat didalam kantor atau pabrik
  • Indentifikasi bagian-bagian yang utama
  • Suatu uraian tugas
  • Hubungan antara pekerjaan yang satu dengan yang lain di dalam unit organisasi atau, dalam hal-hal tertentu, pekerjaan-pekerjaan di dalam perusahaan.
  • Saran-saran tentang cara membuat laporan-laporan yang dibutuhkan dan
  • Informasi tentang cara mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas yang Semarang.

Bila terjadi suatu kontak yang agak luas dengan pegawai-pegawai lain, maka hubungan tersebut juga dijelaskan dan terjadi pengenalan pribadi diantara semua pihak.

Selanjutnya, bila membutuhkan bantuan pelayanan, pegawai baru itu perlu mengetahui bentuk-bentuk pelayanan tersebut dan cara memanfaatkan. Juga diperlukan orientasi bagi para pegawai yang sudah cukup lama bekerja di perusahaan tersebut.

Penemuan-penemuan baru dan perubahan produksi, metode dan organisasi memerlukan orientasi terus menerus. Akan tetapi hal tersebut tidaklah mudah. Atasan akan mengabaikan kelanjutan orientasi karena kegiatan lain seolah-olah lebih penting atau atasan sibuk atau takut mendapatkan responsi dan hasil yang kurang baik. Para pegawai cenderung mempunyai angan-angan yang berbeda dan tidak mudah diteliti.

Yang penting, bawahan harus tetap memberitahukan segala sesuatunya kepada atasan mereka, apabila tidak atasan akan terhalang dalam usaha memberikan pengarahan. Untuk maksud tersebut, umumnya dibuat laporan-laporan dan diadakan pertemuan-pertemuan namun seringkali tidak mencukupi.

Walau demikian, biasanya perintah dinyatakan secara informal di dalam bahasa yang bukan perintah seperti ” marilah kita segera lanjutkan merevisi rencana kerja kita” biasanya terjadi hubungan pribadi antara pemberi perintah dengan penerimanya dan datangnya selalu dari atasan kepada bawahan. Untuk lengkapnya, perintah tersebut memberitahukan apa yang harus dikerjakan, siapa yang mengerjakan,, dan kapan pekerjaan itu harus dikerjakan, di mana, dan bagaimana serta mengapa demikian. Sebaiknya perintah tersebut harus dinyatakan sejelas mungkin agar dapat dimengerti, semata-mata sesuai dengan tujuannya.

Perintah-perintah dapat berupa Lisan atau tulisan, tergantung dari:

  • Tingkat kepercayaan antara pemberi perintah dan penerimanya
  • Hubungan tatap muka dalam organisasi
  • Keperluan akan dokumen untuk referensi di masa yang akan datang.

Pada beberapa perusahaan, perintah-perintah lisan yang berurusan dengan subyek-subyek pintang, diulang kembali oleh penerima perintah untuk meyakinkan kelengkapan dan ketepatannya. Demikian pula perintah-perintah lisan dapat dikonfirmasi secara tertulis apabila penyampaiannya harus diferivikasi dan menjadi dokumentasi.

Sekali perintah telah dikeluarkan, maka pemberi perintah harus melihat apakah perintah terseebut dilaksanakan antau diabaikan. Cara-cara seperti itu menunjukkan manajemen yang baik. Adalah sangat bijaksana untuk memperkenankan adanya variasi dalam memelihara dan melengkapi perintah-perintah tersebut. Untuk setiap bidang operasi, sebaiknya penerima perintah diberi perintah-perintah hanya dari satu sumber saja. Kelebihan perintah akan membingungkan dan menjadi sia-sia. Urgensi perintah harus jelas dan keyakinan terhadap arti dan tujuan sangat diperlukan. Untuk mendapatkan kepercayaan terhadap suatu perintah diperlukan suatu keterangan cermat yang menjelaskan ”alasan dari penugasan tersebut”.

Di dalam memberikan pengarahan, juga digunakan instruksi-instruksi yang menunjang pengetahuan tentang aspek untuk melaksanakan tugas tertentu. Demikian pula, untuk dapat mengikuti tujuannya maka diliput berbagai situasi, diberi data yang terperinci dan urutan langkah-langkah yang harus ditempuh.

Instruksi-instruksi yang sulit dituliskan dan banyak memakan waktu. Walaupun demikian, instruksi-instruksi semakin banyak digunakan, terutama karena:

  • Memungkinkan penerima melanjutkan pekerjaan yang telah disetujui
  • Informasi teknik kerja dapat ditetapkann dan distandarisasi
  • Menjamin kesamaan produk
  • Mendorong indoktrinasi dan pengembangan personal.


Metode dan pendekatan yang ingin digunakan oleh seorang manajer di dalam usahanya untuk mengarahkan bawahan, harus berpengaruh terhadap kelompoknya.

Read On

Untuk Mahasiswa TI Univ. Malahayati

0 comments

Bagi mahasiswa TI Univ. Malahayati yang mengambil mata kuliah Statistik II, silahkan download Tugas Hipotesis Statistik, untuk kemudian dikerjakan.
Tugas tersebut harap diserahkan pada pertemuan selanjutnya.
Ingat, setiap tugas yang dikerjakan akan menambah nilai Anda.
Terimakasih.
Read On

Pencahayaan Pabrik

1 comments

Salah satu factor yang mungkin penting dari lingkungan kerja yang dapat memberikan kepuasan dan produktivitas kepada pegawai/karyawan ialah adanya penerangan yang baik. Penerangan yang baik dalam suatu pabrik/perusahaan akan membantu terciptanya suatu tempat kerja yang aman, membantu dalam melaksanakan kegiatan serta membantu dalam menghemat baik penglihatan maupun tenaga serta membantu dalam memberikan semangat bekerja. Efisiensi seorang operator dari tepat tidaknya dia melihat apa yang dia kerjakan, dan oleh karena itu perlu diadakan perencanaan dan pemeliharaan mengenai system penerangan dalam pabrik, sehingga dapat menambah keefektifan bekerja para pekerja dan dapat memberikan keamanan yang lebih besar dibanding tempat yang intensitas cahayanya kurang (gelap).

Pada umumnya manajer-manajer pabrik mengakui bagaimanapun juga terdapat keuntungan-keuntungan tertentu yang dapat dicapai dengan adanya penerangan yang baik. Adapun keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari adanya penerangan yang baik adalah:

  • Menaikkan produksi dan menekan biaya
  • Memperbesar ketepatan sehingga akan memperbaiki kualitas dari barang yang dihasilkan.
  • Meningkatkan pemeliharaan gedung dan keberhasilan pabrik secara umum
  • Mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi
  • Memudahkan pengamatan/pengawasan
  • Memperbaiki moral kerja
  • Lebih mudah untuk melihat, sehingga memudahkan untuk melanjutkan kegiatan produksi oleh para pekerja terutama para pekerja yang telah memiliki keterbatasan penglihatan (sudah tua, atau memiliki gangguan penglihatan, dll)
  • Penggunaan ruang lantai (floor space) yang lebih baik
  • Mengurangi turn over buruh/pegawai
  • Mengurangi terjadinya kerusakan dari barang-barang yang dikerjakan dan mengurangi hasil yang perlu dikerjakan kembali.
  • Hubungan Produktivitas dan Penerangan

Telah banyak dilakukan percobaan-percobaan untuk membuktikan adanya hubungan antara output dan penerangan yang baik seperti apa yang telah diadakan oelh Hawthorne Plant of Western Electric Company, Inc, dimana telah diperkirakan bahwa dengan bertambah baiknya penerangan maka produktivitas akan meningkat. Akan tetapi percobaan-percobaan ini umumnya gagal untuk menunjukkan berapa besar kenaikan hasil (output yang diakibatkan oleh perbaikan penerangan yang ada. Walaupun hubungan antara hasil (output) dan penerangan yang baik sukar diukur, tetapi ada beberapa yang dapat dihitung dari pertambahan produksi yang langsung dipengaruhi oleh perbaikan penerangan. Hal ini sesuai dengan laporan-laporan yang menyatakan terdapatnya efektivitas dari penerangan yang cukup baik pada output seperti:

Bila terdapat penerangan yang cukup akan memberikan pertambahan produksi dalam punch press production sebesar 25 persen seperti yang dilaporkan oleh suatu perusahaan.

Pabrik tekstil memperoleh pertambahan output sebesar 9 persen dan mengurangi biaya pembetulan/perbaikan sebesar 33 persen.

Pengalaman-pengalaman di atas menggambarkan dengan jelas pengaruh penerangan dalam produksi.

Dari sudut pengeluaran, pengalaman industri umumnya menggambarkan bahwa jarak (ranges) dari biaya penerangan yang baik di antara 2 sampai 5 persen dari total daftar gaji (payroll) akan mengakibatkan pertambahan produksi sebesar 5 sampai 25 persen, secara tidak luar biasa. Sebagai tambahan, suasana/kondisi kerja (working condition) yang lebih baik, mungkin disebabkan oleh perbaikan penerangan yang membantu mengurangi kecelakaan-kecelakaan, mengurangi absenteeism, mengurangi labor turn-over, mengurangi time-lost dalam pekerjaan dan menarik para pekerja untuk bekerja lebih giat.

Ciri Penerangan yang Baik (Good Lighting)

Sinar /cahaya yang cukup. Penerangan yang cukup merupakan suatu fungsi dari beberapa variable yang saling mempengaruhi dalam menentukan kemampuan kita untuk melihat. Adapun variabel-variabel tersebut ialah: besar suatu objek, waktu /kecepatan, serta penerangan yang cukup. Besarnya suatu objek akan sangat menentukan sekali kemampuan untuk dapat melihat dengan jelas, sedangkan untuk melihat benda-benda berukuran kecil dibuthkan tambahan penerangan yang lebih dari pencahayaan normal, sehingga benda tersebut dapat dilihat lebih terinci. Selain itu, untuk dapat melihat dan merinci benda berukuran kecil harus menghabiskan waktu lebih lama apabila tidak terdapat cahaya yang cukup.

Sinar yang tidak berkilau atau menyilaukan. Objek yang dilihat harus bebas dari sinar/cahaya yang menyilaukan. Cahaya yang menyilaukan ini dapat datang langsung dari sumber cahaya atau dari pantulan cahaya. Lampu-lampu yang tidak memakai pelindung (kap) dan lampu-lampu yang dilindungi secara tak tepat merupakan penyebab dari munculnya cahaya yang menyilaukan.

Untuk mengurangi cahaya yang menyilaukan yaitu dengan cara menambah ketinggian objek yang dapat memantulkan kembali cahaya tersebut serta dengan memasang pelindung lampu dengan posisi yang tepat. Selain itu, para manajer harus mampu melakukan perbaikan tata letak fasilitas kerja yang disesuaikan dengan kondisi pencahayaan ruangan agar tidak mengganggu pekerja akibat penerimaan cahaya yang kurang atau akibat pantulan cahaya yang menyilaukan.

Tidak terdapat kontras yang tajam. Setiap bagian (part) dari suatu objek akan dapat mudah dibedakan dengan bagian-bagian lain dan dari latar belakang sekelilingnya dalam terangnya cahaya yang diperlukan, bila bagian itu dapat dilihat dengan mudah. Hendaknya kita harus membuat kontras sedemikian rupa di antara satu objek dengan yang lainnya serta latar belakang yang terdekat untuk dapat dengan mudah membedakannya. Akan tetapi diusahakan agar kontrase tersbut tidak merupakan suatu kontras yang tajam, karena dapat mengakibatkan kelelahan mata yang berlebihan. Untuk mengatasi hal ini perlu dilakukan penambahan tingkat penerangan cahaya pada tempat yang terjadi kontras yang berlebihan.

Cahaya terang. Terangnya cahaya yang diperlukan oleh suatu benda bergantung pada banyaknya cahaya yang dipantulkan dari benda tersebut ke mata pengamat/penglihat. Banyaknya cahaya terang yang dibutuhkan untuk dapat melihat dengan baik dan teliti adalah jauh lebih besar daripada banyaknya cahaya yang diperlukan untuk memungkinkan dapat lekas bertindak (bekerja berdasarkan kecerdikan saja). Penglihatan ke suatu bagian sering bergantung dari perbedaan cahaya yang terang di antara bagian tersebut dengan latar belakangnya (kontras). Perbedaan terangnya ini dapat dinyatakan sebagai rasio atau perbandingan terangnya cahaya. Semakin besar rasio kontras yang tercipta, maka akan memudahkan pekerja dalam melakukan pengamatan terhadap benda tersebut. Untuk itu, penerangan hendaknya mempunyai cahaya terang yang relatif seragam.

Distribusi Cahaya, Bayangan, dan Pemancaran Cahaya yang Merata. Pada umumnya distribusi penerangan yang merata akan sangat membantu untuk terciptanya fleksibilitas lay out ruang kerja. Penerangan yang tidak merata atau buram dapat menyebabkan mata lelah karena harus sering melakukan penyesuaian terhadap kondisi ruangan yang memiliki cahaya tidak merata. Di satu sisi mata melihat bagian yang terang, namun di sisi lain mata harus menyesuaikan saat melihat bagian yang gelap.

Banyaknya cahaya yang dipancarkan bervariasi antara bagian-bagian yang ada sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Pekerjaan seperti pembukuan dan tugas-tugas yang membutuhkan penglihatan yang kritis membutuhkan pemancaran cahaya yang tinggi. Sedangkan untuk tugas-tugas yang focus dengan penglihatan membutuhkan pemancaran cahaya yang lebih tinggi. Penerangan yang terarah akan membantu menentukan tempat penyimpangan atau kesalahan dan kerusakan.

Warna yang sesuai. Warna memiliki peranan yang penting dalam menciptakan suatu kondisi lingkungan kerja yang kondusif. Penggunaan warna yang sesuai dengan psikologis lingkungan kerja adalah sangat baik mengingat pekerjaan yang dilakukan menghabiskan waktu yang sama pada tempat atau lokasi yang tetap. Selain itu, penggunaan warna yang tepat juga dapat mengurangi pantulan-pantulan cahaya atau cahaya-cahaya yang pudar akibat warna yang tidak terang. Dengan demikian, perlu dilakukan penyesuaian antara warna yang diruangan dengan kondisi kerja yang ada.

Read On

Perbedaan Antara Pemasaran dan Penjualan

2 comments

Banyak orang dan beberapa ekskutif bisnis belum memahami perbedaan antara penjuaaln dan pemasran. Banyak orang berfikir bahwa kedua istilah itu sama. Padahal masing-masing mempunyai konsep yang berbeda.

Di bawah konsep penjualan, sebuah perusahaan membuat produk dan kemudian mendayagunakan aneka metode penjualan untuk membujuk konsumen membeli produknya. Ini berarti bahwa perusahaan mengarahkan permintaan konsumen agar sesuai denngan supply yang diajukan. Sebaliknya dibawah konsep pemasaran perusahaan menjajaki apa yang diinginkan oleh konsumen dan kemudian berusaha mengembangkan produk yang akan memuaskan keinginan konsumen dan sekaligus memperoleh laba. Disini perusahaan menyesuaikan supply mereka untuk memenuhi permintaan konsumen.

Mengelola Sistem Pemasaran

Sebuah perusahaan harus merencanakan, melaksankan dan menilai system pemasarannya. Artinya, orgnisasi harus mengelola
(me-manage) upaya pemasarannya dengan efektif. Sebuah program pemasaran yang efektif penting bagi kesejahteraan sebuah perusahaan, siapa yang bertanggung jawab? Tidak lain adalah ppihak manajemen perusahaan. Keberhasilan sebuah perusahaan tergantung sepenuhnya pada mutu manajemennya.

Proses Manajemen

Proses manajemen yang diterapkan di pemasaran pada dasarnya terdiri dari :
1. perencanaan sebuah program perencanaan
2. pelaksanaannya
3. penilaian serta evaluasi atas prestasinya.

Tahap perencanaan menetapkan tujuan dan memilih strategi serta taktik untuk mencapinya. Tahap pelaksanaan mencakup pembentukan organisasi pemasaran dan pengisian stafnya serta pengarahan jalannya operasi agar sesuai dengan rencana. Tahap penilaian prestasi adalah contooh yang bagus dari proses manajemen yang saling berkaitan dan memiliki sifat dasar bersinambung. Artinya, penilaian adalah peninjauan ke belakang dan peninjauan ke depan sekaligus, yaitu sebuah banang merah antara prestasi pada waktu silam dan perencanaan serta operasi pada masa yang akan datang.

Penjualan

Pemasaran

  1. tekanan pada produk
  2. perusahaan pertama-tama membuat produk dan kemudian mereka-reka bagaimana menjualnya.

  1. manajemen berorientasi ke volume penjualan.
  2. perencanaan berorientasi
  1. tekanan pada keinginan konsumen
  2. perusahaan pertama-tama menentukan apa yang diinginkan konsumen dan kemudian mereka-reka bagaimana membuat dan menyerahkan produknya untuk memenuhi keinginan itu.
  3. manajemen berorientasi ke laba usaha.
  4. perencanaan berorientasi ke hasil jangka panjang, berdasarkan produk-produk baru, pasar hari esok, dan pertumbuhan yang akan datang.
Read On

Material Handling Yang Baik dan Efisien

0 comments

Suatu sistem dari material handling yang baik dan efisien akan memberikan keuntungan-keuntungan atau sumbangan kepada pabrik secara efektif dengan cara sebagai berikut.
1. Biaya handling menjadi lebih murah dan lebih mudah dilaksanakan. Sudah jelas bahwa perbaikan dalam metode material handling akan mengurarngi biaya karena barang-barang atau bahan-bahan dapat bergerak lebih cepat. Selain itu tenaga kerja yang digunakan lebih sedikit.
2. Hasil yang dapat ditampung oleh pabrik lebih banyak. Dengan menggunakan ruang lebih efektif terutama overhead space seperti penggunaan ban berjalan, maka akan lebih banyak barang-barang yang dapat diproduksi atau peningkatan dari kapasitas bangunan.
3. Berkurangnya waktu yang tidak produtif. Bila barang-barnag bergerak atau mengalir dengan lancer, maka waktu menganggurnya mesin-mesin dan tenaga kerja dapat dihindarkan.
4. Mempertinggi keselamatan kerja, serta mencegah kerusakan dari barang-barang yang dihasilkan.
5. Menaikkan semangat para pekerja, karena dapat dikurangi kelelahan para pekerja sebab dipergunakannya alat-alat handling seperti ban berjalan (conveyor) atau kereta dorong.
6. Memperbaiki hubungan kerja (labor relation), karena dengan dipergunakannya mesin-mesin handling akan memberikan kesenangan kepada para pekerja dan ini merupakan salah satu aspek psikologis.
7. Mengurangi biaya per unit produk yang dapat disebabkan oleh salah satu atu kombinasi dari keenam cara tersebut diatas.

Seperti telah dikatakan bahwa kita harus melihat kemungkinan-kemungkinan untuk mengurangi pemborosan dalam biaya material handling. Cara mengurangi pemborosan tersebut adalah dengan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi. Sebagaimana kita ketahui bahwa biaya-baiaya yang harus dikeluarkan bagi pekerja-pekerja adalah sangat tinggi. Oleh karena itu tidak akan efektif dan efisien apabila sebagan besar waktu kerja para pekerja dihabiskan untuk melaksanakan kegiatan material handling saja. Biaya-biaya ini sebagian besar dapat dikurangi dengan jalan mempekerjakan tenaga-tenaga kerja yang kurang ahli untuk melaksanakan material handling menggunakan peralatan untuk membantu para pekerja dalam melaksanakan kegiatan material handling tersebut.

Prinsip efisiensi sangat penting untuk diperhatikan dalam aktivitas material handling. Sebagai contoh, apabila bahan-bahan atau barang-barang hendak dipindahkan maka cara terbaik dan lebih efisien adalah jika bahan-bahan atau barang-barang tersebut tidak dipindahkan dengan tangan tetapi dengan alat pengangkut, misalnya dengan menggunakan tenaga angina, ban berjalan dan tenaga air untuk memindahkan barang-barang atau bahan-bahan dan untuk membuang sampah secara otomatis ke dalam tempat sampah.

Sebelum material handling diterapkan, perlu dilakukan pengkoordinasian terutama dalam penelaahan atau penyelidikan aspek-aspek produksi yang menyangkut kegiatan material handling, sperti:
1. Produk design, dimana produk yang direncanakan haruslah dibuat sedemikian rupa sehingga mudah diangkut atau dipindahkan.
2. Plant layout, dimana bagian-bagian dan peralatan haruslah diatur supaya pemindahan bahan/barang dalam proses dapat berjalan dengan lancer, sehingga dapat mengurangi saktu pengerjaan dan waktu material handling. Plant layout dan material handling seharusnya berjalan bersamaan, di mana tentunya suatu layout yang direncanakan dan dibuat dengan baik akan mencegah kemacetan-kemacetan dalam aliran atau pergerakan bahan-bahan dalam proses.
3. Production planning, di mana urutan-urutan proses produksi haruslah diatur sedemikian rupa sehingga pemindahan bahan-bahannya mudah dilaksanakan.
4. Pengepakan (packaging) harus memperhatikan agar handlingnya dapat dilakukan dengan mudah, dimana pembungkusan harus dibuat dengan baik dan kuat.
Read On

Analytical Hierarchy Process (AHP)

0 comments

Sumber kerumitan masalah keputusan bukan hanya ketidak pastian atau ketidaksempurnaan informasi. Penyebab kerumitan pengambilan keputusan lainnya adalah banyaknya factor yang berpengaruh terhadp pilihan-pilihan yang ada, beragamnya criteria pemilihan, dan jika pengambilan keputusan adalah lebih dari satu.

Ada suatu metode untuk mempermudah pengambilan keputusan apabila kerumitan terjadi sebagai akibat dari banyaknya criteria.


Analytical hierarchy process atau AHP merupakan suatu teknik untuk membantu menyelesaikan masalah ini. AHP diperkenalkan oleh Thomas L. Saaty


Dengan mengikuti perkembangan yang ada, maka semakin banyaklah penggunaan AHP yang diaplikasikan untuk menentukan prioritas pilihan-pilihan dengan banyak criteria, dan juga digunakan sebagai metode alternative untuk menyelesaikan bermacam-macam masalah, seperti memilih portfolio, analisis manfaat biaya, peramalan (forcasting), dan lain sebagainya. Luasnya penggunaan AHP di berbagai bidang dimungkinkan karena AHP cukup mengandalkan pada intuisi sebagai input utamanya, namun intuisi harus datang dari pengambilan keputusan yang cukup informasi dan memahami masalah keputusan yang dihadapi.


Pada dasarnya AHP adalah suatu teori umum tentang pengukuran. Ilmu ini digunakan untuk menemukan skala rasio baik dari perbandingan pasangan yang diskrit maupun continue. Perbandingan-perbandingan ini dapat diambil dari ukuran actual atau dari suatu skala dasar yang mencerminkan kekuatan perasaan dari preferensi relative. AHP memiliki perhatian-perhatian khusus tentang penyimpangan dari konsistensi, pengukuran dan pada ketergantungan di dalam dan di antara kelompok elemen strukturnya.

DASAR-DASAR AHP

Skala ukuran panjang (meter), temperature (derajt), waktu (detik) dan uang (rupiah) telah digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengukur bermacam-macam kejadian secara pisik. Kita ketahui bahwa penerapan seperti itu dapat diterima secara umum. Pertanyaannya adalah apakah kita ddapat memperluas dan membenarkan penggunaan skala tersebut secara beralasan dan mudah dipahami untuk mencerminkan perasaan-perasaan kita pada bermacam-macam persoalan social, ekonomi dan politik? sulit dibayangkan, sebab di sini lebih cocok bila digunakan suatu ukuran lain yang lebih sederhana, misalnya persentase. Namun, variable-variabel social, ekonomi dan politik tidak jarang sulit untuk dilakukan pengukuran. Misalnya saja permasalahan tentang bagaimana mengukur produk yang berupa rasa aman karena tidak adanya serangan dari negara lain yang dihasilkan karena pengeluaran pemerintah di bidang pertahanan, bagaimana mengukur kerugian yang diderita masyarakat karena bermacam-macam polusi dan kerusakan lingkungan akibat industrialisasi, bagaimana mengkuantifikasi kesenangan karena dapat menikmati waktu senggang, dan lain sebagainya.


Di samping itu, sering ditemui bahwa tindakan yang dilakukan pemerintah , perusahaan besar, atau badan apa saja, sringkali memberikan bermacam-macam pengaruh pada banyak segi kehidupan. Kemudian, pertanyaan adalah bagaimana mengatakan bahwa suatu tindakan adalah lebih baik di banding tindakan lain? Kesultan menjawab pertanyaan ini disebabkan dua alasan utama.


Pertama, pengaruh-pengaruh itu kadang-kadang tidak dapat dibandingkan karena satuan ukuran atau bidang yang berbeda.


Kedua, pengaruh-pengaruh itu kadang-kadang saling bentrok, artinya perbaikan pengaruh yang satu hanya dapat dicapai dengan pemburukan pengaruh lainnya. Alas an-alasan ini menyulitkan kita dalam membuat ekuivalensi antar pengaruh. Bertolak dari hal ini, maka diperlukan suatu skala yang luwes disebut prioritas, yaitu suatu ukuran abstrak yang berlaku untuk semua skala. Penentuan prioritas inilah yang akan dilakukan dengan menggunakan AHP.

Dalam menyelesaikan persoalan dengan AHP ada beberapa prinsip yang harus dipahamu, diantaranya adalah: decomposition, comparative judgement, synthesis of priority, dan logical consistency.

Decomposition

Merupakan suatu aktivitas penguraian permasalahan menjadi unsur-unsurnya. Dekomposisi atau penguraian yang dilakukan harus mencapai unsur terkecil (detail) sampai tidak memungkinkan untuk dilakukan penguraian lebih lanjutuntuk memperoleh hasil yang akurat. Karena alas an inilah maka proses analisis ini dinamakan hirarki (hierarchy). Ada dua jenis hirarki, yaitu lengkap dan tidak lengkap.

Hirarki lengkap semua elemen pada suatu tingkat memiliki semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya, dan sebaliknya.

Comparative Judgement

Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relative dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat di atasnya. Penelitian ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh pada prioritas elemen-elemen. Hasil dari penilaian ini akan tampak lebih enak bila disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan matriks pairwise comparison. Pertanyaan yang biasa diajukan dalam penyusunan skala kepentingan adalah:

1. Elemen-elemen mana yang lebih (penting/disukai/mungkin/…) dan

2. Berapa kali lebih (penting/disukai/mungkin/…)?

Agar diperoleh skala yang bermanfaat ketika membandingkan dua elemen, seseorang yang akan memberikan jawaban perlu pengertian menyeluruh tentang elemen-elemen yang dibandingkan dan relevansinya terhadap criteria atau tujuan yang dipelajari. Dalam penyusunan skala kepentingan ini, digunakan patokan table berikut.

Tingkat Kepentingan

Definisi

1

3

4

6

9

2,4,6,8

Reciprocal

Sama pentingnya disbanding yang lain

Moderat pentingnya dengan yang lain

Kuat pentingnya disbanding yang lain

Sangat kuat pentingnya disbanding yang lain

Ekstrim pentingnya dibanding yang lain

Nilai di antara dua penilaian yang berdekatan

Jika elemen i memiliki salah satu angka di atas ketika dibandingkan elemen j, maka j memiliki nilai kebalikannya ketika disbanding elemen i


Dalam penilaian kepentingan relative dua elemen berlaku aksioma reciplocal artinya jika elemen i dinilai 3 kali lebih penting disbanding j, maka elemen j harus sama dengan 1/3 kali pentingnya dibanding elemen i. Di samping itu, perbandingan dua elemen yang sama akan menghasilkan angka 1, yang artinya sama penting. Dua elemen berlainan dapat saja sama penting. Jika terdapat n elemen, maka akan diperoleh matriks pairwise comparison berukuran n x n. banyaknya penilaian yang diperlukan dalam menyusun matriks ini adalah n(n – 1)/2 karena matriksnya reciprocal dan elemen-elemen diagonal sama dengan 1.

Synthesis of Priority

Dari setiap matriks pairwise comparison kemudian dicari eigenvectornya untuk mendapatkan local riority. Karena matriks pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan sintesa di antara local priority. Prosedur melakukan sintesa berbeda menurut bentuk hirarki. Pengurutan elemen-elemen menurut kepentingan relative melalui prsedur sintesa dinamakan priority setting.

Logical Consistency

Konsistensi memiliki dua makna. Pertama adalah bahwa objek-objek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Contohnya, anggur dan kelereng dapat dikelompokkan dalam himpunan yang seragam jika bulat merupakan kriterianya. Tetapi tak dapat jika rasa sebagai kriterianya.

Arti kedua adalah menyangkut tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan pada criteria tertentu. Contohnya, jika manis merupakan criteria dan madu dinilai 5x lebih manis disbanding gula, dan gula 2x lebih manis disbanding sirup, maka seharusnya madu dinilai 10x lebih manis disbanding sirup. Jika madu hanya dinilai 4x manisnya disbanding sirup, maka penilaian tak konsisten dan proses harus diulang jika ingin memperoleh penilaian yang lebih tepat.

Beberapa aplikasi AHP yang biasa digunakan antara lain untuk memilih portofolio, untuk analisis manfaat biaya, untuk peramalan, dan AHP dalam kelompok.


Read On

Bauran Pemasaran Jasa (Service Marketing Mix)

2 comments

Dinamika hamper semua pasar jasa telah berubah. Tingkat kompetensi yang rendah telah mengarah kepersaingan yang ketat dan intens. Dalam kondisi pasar yang semakin kompetitif, pemasaran telah menjadi kunci pembeda antara kesuksesan dan kegagalan perusahaan. ditinjau dari fungsinya, pemasaran memiliki tiga komponen unci (Paybe, 2000: 28), yakni:

Bauran pemasaran, yakni unsure-unsur atau elemen-elemen internal penting yang membentuk program pemasaran sebuah organisasi
Kekuatan paar peluang dan ancaman eksternal dimana operasi-operasi pemasaran sebuah irganisasi berinteraksi, dan
Proses penyelarasan proses strategic dan manajerial untuk memastikan bahwa bauran pemasaran dan kebijakan-kebijakan internal layak bagi kekuatan pasar.

Bauran pemasaran merupakan satu dari sekian konsep yang paling universal yang telah dikembangkan dalam pemasaran. Meningkatnya perhatian pada aplikasi pemasaran dalam sector jasa telah mengarah pada pertanyaan apa saja komponen-komponen atau unsure-unsur kunci bauran pemasaran jasa.
Langkah awal dalam merumuskan dan mengembangkan program-program pemasaran strategis adalah menspesifikasikan tujuan-tujuan yang akan dicapai dan seluruh strategi pemasaran yang digunakan (Boyd, Walker dan Larreche, 2000: 21). Tujuan perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain dapat berbeda-beda. Tujuan perusahaan dapat berupa pencapaian volume penjualan yang tinggi, mendominasi pangsa pasar, meningkatkan keuntungan, dan sebagainya.
Setelah tujuan perusahaan dirumuskan dan ditetapkan, barulah dibuat program-program yang selaras dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. salah satu program pemasaran yang dapat digunakan adalah program bauran pemasaran yang merupakan salah satu konsep penting dalam pemasaran yang menjadi elemen dari perencanaan pemasaran. Kotler dan Amstrong (2000: 47) menyatakan:
“Marketing mix as the set of controllable, tactical marketing tools that the firm blend to produce the response it wants in the target market”.

Mc Charty (dalam Smith, 1995: 18), mengartikan bauran pemasaran sebagai
“Marketing mix is one conceptual which helps to structure the approach to each marketing challenge”.

Dalam perumusan bauran pemasaran jasa perlu diperhatikan bahwa rumusan itu harus tepat pada pasar sasaran. Elemen-elemen bauran pemasaran seperti product, price, place, dan promotion dirasakan kurang memadai oleh para ilmuan dan praktisi, terutama bila produk itu berupa jasa. Booms dan Bitner dalam Rust, Zahorik dan Keiningham (1996: 10) menambahkan lagi 3 unsur bauran pemasaran, yaitu: people, physical evidence, dan process. Dengan demikian bauran pemasaran untuk jasa yang kita kenal sekarang terdiri dari 7P yaitu:
product, price, place, promotion, people, physical evidence, dan process.

Unsur-Unsur Bauran Pemasaran

Bauran Pemasaran Tradisional
Produk (Product), merupakan barang fisik, jasa, ataupun kombinasi keduanya, yang ditawarkan kepada sasaran. Produk merupakan elemen marketing mix yang pertama kita ketahui, untuk dapat menyusun bauran pemasaran selanjutnya yang sesuai dengan jenis produk tersebut.

Harga (Price), merupakan sejumlah uang yang harus dikeluarkan konsumen untuk memperoleh produk/jasa hasil perusahaan. Dalam mempertimbangkan harga harus diperhatikan tingkat permintaan produk/jasa, perkiraan biaya produksi/operasional, harga produk pesaing, situasi, dan kondisi persaingan seta pasar sasaran.

Tempat Pelayanan (Place), merupakan perencanaan dan pelaksanaan program penyaluran produk melalui lokasi pelayanan yang tepat pada waktu yang tepat dan dengan jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Promosi (Promotion), merupakan kombinasi dari variable-variabel periklanan, penjualan tatap muka. Promosi penjualan, dan publikasi yang dilakukan perusahaan dalam upaya mengkomunikasikan produk dengan para konsumen.

Bauran Pemasaran Non-Tradisional
Sumber daya manusia (Human Resource), merupakan orang-orang yang terlibat langsung dalam menjalankan segala aktivitas perusahaan dan merupakan factor yang memegang peranan penting bagi semua organisasi. Dalam perusahaan jasa, unsure people ini bukan hanya memainkan peranan penting dalam bidang produksi atau operasional saja, tetapi juga dalam melakukan hubungan kontak langsung dengan konsumen. Perilaku orang-orang yang terlibat langsung ini sangat penting dalam mempengaruhi mutu jasa yang ditawarkan dan image perusahaan jasa yang bersangkutan.

Sarana Fisik (Physical Evidence), merupakan suatu hal yang secara nyata ikut mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dan menggunakan produk jasa yang ditawarkan. Unsure-unsur yang termasuk dalam physical evidence antara lain lingkungan fisik, dalam hal ini bangunan fisik, peraalatan, perlengkapan, logo, warna dan barang-barang yang disatukan dengan service yang diberikan seperti tiket, sampul, label dan sebagaina.

Proses (Process), merupakan suatu upaya perusahaan dalam menjalankan dan melaksanakan aktifitasnya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumennya secara cepat dan tepat. Untuk perusahaan jasa kerjasama antara marketing dan operasional sangat penting dalam elemen proses ini.
Read On

Konsep Just in Time adalah sebuah pendekatan yang berusaha mengurangi semua sumber pemborosan dan segala hal yang tidak mempunyai nilai tambah lagi bagi kegiatan produksi.


Konsep ini merupakan salah satu falsafah yang meliputi tidak saja pada pengelolaan inventori tetapi juga pada seluruh system produksi.

Produk dibuat pada saat atau “just in time” dibutuhkan dan bukan karena ada kemungkinan atau ‘just in time” dibutuhkan.


Dasar pemikiran dari konsep JIT bahwa inventori merupakan nilai dan sumber daya yang menganggur sehingga merupakaan pemborosan. Konsep JIT mengusahakan pendayagunaan semua kemampuan pekerja, untuk memproduksi produk yang berkualitas dan selesai pada jadwal waktu yang telah ditentukan.


Di sampung itu, para pekerja juga dituntut untuk setiap kali mengadakan perbaikan proses produksi. Hal ini dapat dilakukan dengan tindakan pro-aktif para pekerja melalui kelompok-kelompok kerja. Pada akhirnya konsep JIT akan menghasilkan hal-hal sebagai berikut.

  • Jmlah persediaan lebih sedikit
  • Biaya yang dikeluarkan lebih rendah
  • Kualitas yang dihasilkan lebih baik

Proses Pelaksanaan JIT

Jadwal pokok JIT ditetapkan untuk periode waktu tertentu, yang akan memberikan peluang ke semua bagian pelaksana pekerjaan dan pemasok untuk merencanakan pekerjaan masing-masing.

Metode JIT menggunakan satu sarana sederhana untuk memindahkan material dari satu pusat kerja ke pusat kerja berikutnya. Sarana ini disebut dengan nama system KANBAN.


Pelaksanaan system kanban adalah sebagai berikut.

Material diletakkan dalam satu wadah kecil yang mempunyai volume tertentu. Apabila semua wadah ini penuh terisi material maka mesin produksi akan berhenti bekerja dan akan mulai bekerja lagi apabila wadah kosong datang dari pusat kerja yang membutuhkan material tersebut.


Dengan demikian, maka persediaan barang dalam proses dapat dibatasi dengan wadah yang dibuat sesuai dangan volume kebutuhan. Wadah ini dipindahkan dari pusat kerja yang satu ke pusat kerja lainnya sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan.


Sasaran dari metode JIT adalah menghasilkan material dalam satu paket saja. Hal ini tidak ekonomis karena biaya persiapan proses tidak sebanding dengan biaya pengelolaan inventori. Untuk mengatasi hal ini maka waktu persiapan diperkecil, yang akan mengakibatkan ukuran paket material menjadi kecil. Ukuran paket material yang sdikit menyebabkan waktu produksi kecil, dan persiapan mesin lebih cepat sehingga produksi akan lebih fleksibel. Untuk mendukung semua itu diperlukan pekerja yang mempunyai keahlian dan keterampilan yang luas dan beragam.


Tata letak pabrik berbeda pada metode JIT karena penyimpanan inventori tidak dipusatkan melainkan diletakkan di masing-masing pusat kerja siap untuk proses berikutnya. Julah inventori sedikit karena hanya untuk kebutuhan persediaan beberapa jam atau hari saja maka ruang gudang dan akhirnya ukuran pabrik menjadi lebih kecil yaitu 1/3 lebih kecil.

Kualitas kerja harus dijaga dengan baik dan apabila ada sesuatu kesalahan akan segera diperbaiki pada proses berikutnya.


Hubungn dengan pemasok pada system JIT sedemikian rupa sehingga agar pemasok mengirim material dengan frekuensi sebanyak mungkin langsung ke bagian produksi sehingga mengurangi penyimpanan atau inventori bahan mentah.

Pemasok juga akan menerima wadah kanban untuk diisi dan dikirim ke bagian produksi sehingga pemasok akan merupakan rangkaian dan bagian dari produksi.

Tampak di sini metode JIT mempengaruhi semua aspek dari operasi:

  • Ukuran paket material atau lot sizing inventori
  • Penjadwalan proses produksi
  • Kualitas
  • Tata letak ruang kerja atau fasilitas layout
  • Pemasok
  • Hubungan perburuhan

Selain itu tujuan metode JIT adalah untuk memperbaiki pengembalian investasi atau return of investment yang mana meningkat disebabkan karena:

  • Pendapatan perusahaan meningkat
  • Biaya operasi berkurang
  • Investasi sedikit
  • Sedikit kesalahan produksi
  • Sedikit jumlah inventori

Yang terpenting pada system JIT ialah aktivitas pemecahan masalah atau problem solving yang dilakukan oleh manajemen bersama-sama dengan pekerja, terutama dalam usaha menghilangkan inventori dan kemudian menjamin mutu produksi dengan perbaikan yang terus-menerus.

Read On

Pengertian KKK

1 comments

Menurut Payman Simanjuntak pada buku Manajemen Keselamatan Kerja, keselamatan dan kesehatan kerja adalah salah satu factor yang dapat meningkatkan nilai saing dari suatu perusahaan, sebab keselamatan dan kesehatan kerja mempunyai dampak terhadap lingkungan di sekitarnya.

Standar Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja berhubungan erat dengan peningkatan produksi atau produktivitas sebab keselamatan kerja akan membawa iklim keamanan dan ketenangan sehingga sangat membantu bagi hubungan pekerja dan pengusaha yang merupakan landasan kuat terciptanya klancaran produksi.

Faktor-faktor Keselamatan Kerja

Kesalahan yang disebabkan karena mesin ataupun desain dari peralatan kerja disebut Design Related Error atau Design Error (Willie Hammer, 1989)

Kesalahan yang disebabkan oleh seseorang dalam mengoperasikan alat kerja atau produksi antara lain disebabkan oleh:

Pekerja yang bersangkutan tidak terampil atau tidak mengetahui cara mengoperasikan alat-alat tersebut.

Pekerja tidak hati-hati, lalai dalam kondisi terlalu lelah atau dalam keadaan sakit

Tidak tersedianya alat-alat pengaman dan/atau

Alat kerja atau alat produksi yang digunakan dalam keadaan tidak baik atau tidak layak pakai lagi.


Proteksi Keselamatan Kerja

Beberapa metode yang digunakan untuk menganalisis sumber-sumber bahaya dalam perusahaan industri menurut Willie Hammer adalah:

  1. Critical Incident Technique
  2. Fault Tree Analysis

Beberapa metode yang digunakan untuk menerapkan keselamatan kerja dalam perusahaan industri menurut Willie Hammer adalah sebagai berikut.

  1. Lockins dan Lockouts
  2. Two Man Concept
  3. Buddy System
  4. Fail Safe Designs

Read On

Biaya dalam Persediaan

0 comments

Terdapat lima kategori biaya yang dikaitkan dengan keputusan persediaan, yaitu:
1. Biaya pemesanan (ordering cost)
2. Biaya penyimpanan (carrying cost)
3. Stock out cost
4. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas
5. Biaya bahan atau barang itu sendiri

Biaya Pemesanan
merupakan biaya yang dikaitkan dengan usaha untuk mendapatkan bahan atau barang dari luar. Biaya pemesanan dapat berupa: biaya penulisan pesanan, biaya proses pesan, biaya materai/perangko, biaya faktur, biaya pengetesan, biaya pengawasan, dan biaya transportasi. Sifat biaya pemesanan ini adalah semakin besar frekwensi pembelian maka semakin besar biaya pemesanan yang harus dikeluarkan

Biaya Penyimpanan
Komponen utama dari biaya simpan terdiri dari:
  1. Biaya modal, meliputi opportunity cost atau biaya modal yang diinvestasikan dalam persediaan, gedung, dan peralatan yang diperlukan untuk mengadakan dan memelihara persediaan.
  2. Biaya simpan, meliputi biaya sewa gudang, perawatan dan perbaikan bangunan, listrik, gaji personel keamanan, pajak atas persediaan, pajak dan asuransi peralatan, biaya penyusutan dan perbaikan peralatan. Biaya tersebut ada yang bersifat tetap (fix cost) ada yang variabel, dan ada yang semifix dan semi variabel.
  3. Biaya resiko, yang meliputi biaya keusangan, asuransi persediaan, biaya susut secara fisik, dan resiko kehilangan.
Beberapaa komponen biaya penyimpanan secara relatif sangat kecil, tetapi secara total biaya penyimpanan ini cukup besar. Beberapa studi menunjukkan bahwa biaya penyimpanan berkisar 35% dari nilai persediaan. sebagian besar biaya penyimpanan merupakan biaya modal atau oportunity cost.
Sifat biaya penyimpanan adalah semakin besar frekwensi pembelian bahan, semakin kecil biaya penyimpanan.

Biaya Kekurangan Persediaan
Biaya kekurangan persediaan terjadi apabila persediaan tidak tersedia digudang ketika dibutuhkan untuk produksi atau ketika langganan memintanya. Biaya yang dikaitkan dengan stockout meliputi biaya penjualan atau permintaan yang hilang (biaya ini sangat sulit dihitung), biaya yang dikaitkan dengan proses pemesanan kembali seperti biaya ekspedisi khusus, penanganan khusus, biaya penjadwalan kembali produksi, biaya penundaan, dan biaya bahan pengganti.

Biaya yang dikaitkan dengan Kapasitas
Biaya ini terjadi karena perubahan dalam kapasitas produksi. Perubahan kapasitas produksi diperlukan karena perusahaan berusaha untuk memenuhi fluktuasi dalam permintaan. Perubahan kapasitas produksi, menghendaki adanya perubahan dalam persediaan. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas dapat berupa: biaya kerja lembur untuk meningkatkan kapasitas, latihan tenaga kerja baru, dan biaya labor turn over.

Biaya Bahan atau Barang
Merupakan harga yang harus dibayar atas item yang dibeli. Biaya ini akan dipengaruhi oleh besarnya diskon yang diberikan supplier. Oleh karena itu biaya bahan atau barang akan bermanfaat dalam menentukan apakah perusahaan sebaiknya menggunakan harga diskon atau tidak.
Read On